“KRITIK UNTUK PEMUDA DI HARI SUMPAH PEMUDA”

Sebuah kongres pemuda II yang dilakukan 91 tahun yang lalu 28 oktober 1928 melahirkan beberapa point kesepakatan pemuda dalam bersikap yang disebut dengan sumpah pemuda, untuk mengambil bagian dalam menentukan arah bangsa sebelum hari proklamasi kemerdekaan indonesia, pemuda diyakini mempunyai peran vital dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 Menurut sejarahnya pergerakan pemuda saat itu muncul ketika terbentuknya beberapa perhimpunan diantaranya Perhimpunan Indonesia dan Tri Koro Darmo. Perhimpunan inilah yang akan melahirkan organisasi kesukuan seperti jong java, jong ambon, jong batak, jong minahasa dan organisasi lainnya.


Sehingga ketika kita hari ini akan menyuarakan selamat hari lahirnya sumpah pemuda 28 oktober 1928, seakan pintu refleksi terbuka lebar untuk kembali melihat dan merenungkan apa yang telah diperjuangkan pemuda pahlawan bangsa saat itu.

Sejarah begitu banyak mencatat yang menjadi korban perjuangan pemuda pahlawan bangsa kala itu, tetapi kita lupa mengheningkan cipta. Seolah – olah bicara Lahirnya Sumpah pemuda cuma bicara kemenangan pemuda dalam berjuang tapi kita mengabaikan korban perjuangan pahlawan yang sudah memberikan badan untuk negeri termakan tanah.

 Situasi bangsa hari ini semakin sadis diporak-porandakan para penguasa mulai dari Hulu hingga Hilir yaitu pembuatan produk Hukum sampai pada perlindungan kapitalisme, tapi pemuda tak sedikit masih  nyaman memeluk bantal.              

 Pemuda yang lupa kalau identitasnya sebagai pemuda yaitu sebagai alat perjuangan keadilan, tapi tak sedikit pemuda hari ini memposisikan diri sebagai koalisi pemerintah (cari aman) , pemuda yang lupa kalau sejatinya semangat pemuda dalam perjuangan adalah upaya normalisasi jantung bangsa, tapi apa ? pemuda hari ini lupa kalau dirinya adalah oposisi dari pemerintah ketika rivalitas partai oposisi dalam konstelasi sedang tertidur dan atau sedang sibuk mencari muka.

 Kehidupan demokrasi dalam berbangsa dan bernegara akan hilang ketika tidak adanya saling kontrol antara pemerintah oleh setiap orang yang berperan sebagai oposisi maka negara ini akan seperti negara otoriterisme.

Kalau bung karno pernah berkata “berikanlah aku seribu orang tua akan ku cabut semeru dari akarnya dan berikanlah aku sepuluh pemuda akan ku guncangkan dunia”. Pernyataan itu bukan untuk gaga – gagahan dalam berpidato tapi karena bung karno meyakinkan kekuatan pemuda mempunyai peran yang luar biasa untuk bangsa ini.

Pemuda hari ini, berdiam memupuk lupa akan semangat perjuangan dan sibuk terlalu mengagung-agungkan rezim penguasa. Sehingga izinkan ku bertanya “apakah inilah pertanda sebuah kemajuan perjuangan pemuda.? atau inilah pertanda sebuah kemunduran perjuangan pemuda.?

@hidup_pemuda
@hidup_mahasiswa

Salam dari saya : HendyLepa

Dok. Terbaik