Eduard Sebagai Aktivis peduli kehidupan Umat Manusia

Berita1online.com-Tepat Hari ini, 17 Agustus 2019 Indonesia merdeka dari penjajah sudah 74 tahun. Kemerdekaan tersebut ditandai peristiwa Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 lalu. Peristiwa ini tidak terlepas dari perjuangan Bung Karno sosok Proklamator NKRI, sosok yang menginspirasi rakyat Indonesia dan dunia, khususnya kaum muda penerus bangsa.

Kini Bung Karno menjadi tokoh pahlawan pendiri bangsa Indonesia. Momen perayaan proklamasi kemerdekaan menjadi momen yang cocok untuk pemuda merefleksikan kembali kisah inspirasi perjalan Bung Karno selama masa muda. Ada banyak hal yang menjadi kebiasaan Soekarno selama masa mudanya hingga mengantarkan Ia sebagai pemimpin inspiratif.

Buku yang ditulis oleh Andi Setiadi (2017) mengisahkan biografi politik dan intelektuak yang dilalui Bung Karno sejak masa kecil hingga Ia menjadi pemimpin yang dikagumi dunia. Ada kebiasaan-kebiasaan yang terlihat sepele yang dilakukan Bung Karno tetapi berdampak besar perjalannya menjadi seorang pemimpin.

Salah satu kehebatan beliau adalah mampu menghipnotis audiens dengan gaya retrorika yang begitu menggugah. Hal ini disebabkan karena beliau membudayakan kebiasaan suka membaca dan berdiskusi dengan kawan-kawan perjuangannya dikamar kos, dikampus dan dimanapun yang bisa menimbulkan diskusi seputar bangsa Indonesia (Setiadi: 2017).

Salah satu aktivis pemuda yang bergerak dengan LSM, Eduard Lorens Fasius mengatakan bahwa pemuda sebagai kaum yang memiliki kemewahan idealisme mestinya membudayakan kegiatan diskusi dengan kawan-kawan idealismenya untuk memupuk tumbuh suburnya gagasan demi bansa Indonesia, seperti yang dilakukan Bung Karno. Diskusi menurutnya tidak harus dengan forum-forum besar dan formal, tetapi bisa dimulai kelompok diskusi kecil dikamar kos atau dimanapun.

Eduard menyadari perlunya menghadirkan budaya diskusi untuk membahas isu-isu sosial secara kritis dari berbagai disiplin ilmu yang diperoleh dari kampus dan dari berbagai sudut pandang sehingga menghasilkan kesimpulan yang teruji. Lanjut Eduard, pemuda mestinya tidak apatis dalam menanggapi setiap isu krusial yang menjerit ditengah masyarakat tetapi sebaliknya harusnya proaktif dalam memberikan kontribusi nyata yang positif.

Dengan berdiskusi membuka ruang antar sesama generasi untuk menghasilkan kesepakatan-kesepakatan kecil yang diyakini Eduard nantinya sungguh berdampak besar. Didalam diskusi akan terjadi tukar tambah pikiran yang pada akhirnya melahirkan sebuah sikap serta tindakan untuk kemajuan dan kepentingan bersama. Dengan ruang diskusi kritis pula menghadirkan rasa persaudaran tanpa sekat dalam berdinamika sebagai warga negara. Kebiasaan-kebiasaan inilah yang dilalui oleh Bung Karno, yang hasilnya Ia mampu mengantar Bangsa Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan.

Hal ini bersesuaian dari pengalaman Eduard sebagai aktivis lingkungan, bahwa isu yang merongrong kemaslahatan kehidupan umat manusia didunia adalah isu lingkungan hidup. Sikap egoisme manusia telah mengeksplorasi dan merusak alam berserta ekosistemnya, yang pada akhirnya juga membahayakan keberlanjutan hidup manusia. Dimomen perayaan hari proklamasi kemerdekaan, ia mengajak pemuda untuk membudayakan diskusi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, meski tidak harus menyelesaikan masalah minimal tidak menjadi sumber masalah, dimulai dari hal kecil yaitu dengan memelihara lingkungan dan tidak membuang sampah sebarangan.

Membaca juga menjadi hal yang sangat penting. Dengan membaca ada proses pemasukan wawasan kedalam nalar berpikir yang dapat diolah dan dipertimbangkan dalam ruang diskusi kritis. Dengan demikian wawasan berpikir semakin luas dan pemuda akan mampu menjadi warga negara yang mau memikirkan bangsa ini dan mau memberikan kontribusi nyata yang positif untuk kemajuan bangsa.

Sebagai pemuda, berangkat dari kebiasaan kecil Bung Karno yang saat ini membawa dampak besar bangsa, Eduard berharap agar pemuda menjadikan momen 17 agustus ini merefleksikan kembali siapa dirinya dan hal semestinya yang akan dilakukan bercermin dari keteladanan tokoh pendiri bangsa, Bung Karno. Refleksi yang dimaksudkan dengan membangun kebiasaan kecil seperti membaca dan berdiskusi serta bergerak bersama rakyat peduli akan keberlanjutan hidup umat manusia, nantinya akan mendatang gelombang besar kebermanfaatan kebiasaan kecil ini.

( *Eduard Lorens Fasius, wakil devisi kampanye sahabat Alam NTT anak LSM WALHI NTT)(berita1online.com)