IMG-20190802-WA0002

Elegi Tanah Pesisir Marosi
(Mengenang Alm. Poro Duka yang ditembak mati oleh moncong senjata kepolisian)

Oleh : Inya Mete *

Door, door, dooooor

Pesisir marosi bermandi darah
Darah juang pahlawannya
Tak kenal terik, tak kenal peluh
Demi membela tanah miliknya
Nyawa melayang menjadi taruhannya
Bukan untuk tumbal
Bukan untuk sesajen
Yang harus dipersembahkan kepada Tuan tanah
Bukan ritual
Bukan urrata
Yang harus dilakukan untuk meminta berkat dari Marapu.

Akh…
Keparat kau para aparat
Seharusnya esensi dari jabatanmu adalah membela rakyat
Sesuai undang-undang bersyarat
Tapi mengapa kau yang di anggap penuh rahmat
Malah membawa laknat?
Dan
Apa kabar pahlawan…
Ini kah yang kau inginkan ketika kau rela mati bersimbah darah lalu generasi pengaman bangsa berubah jadi bangsat?
Apa kabar Ibu pertiwi…
Tidakkah kau merasakan perih ketika anak-anakmu saling beradu lengan?

Akh…
Kami hanyalah rakyat kecil
Yang ditandai dengan wajah dekil
Dipeloroti dengan pantat bedil
Kami langsung mengerdil.
Tapi tidak dengan semangat juang kami
Wahai Tuan puan
Yang bercengkerama diatas singgasana
Kau boleh saja mengecutkan mata kami
Kau boleh saja mencucuk hati kami.
Terserah
Tapi jangan dengan tanah warisan para leluhur.
Apa yang akan kami berikan kepada anak cucu kami
Jika kau datang merampas paksa milik kami satu-satunya?

Kau para koruptor
Yang sering bertandang di rumah para investor
Keluar masuk layaknya kawan yang sedang bersilahturahmi
Katanya Saling memberi inspirasi
Yang nyatanya berisi konspirasi.

Hei…
Para koruptor
Jelmaan predator
Yang punya traktor untuk para investor.

Ini tanah milik kami
Yang layak kami tinggali
Jadi jangan kau jajaki.

Tega kau aparat
Kau tak hitung-hitung menembak
Tapi kau rajin hitung-hitung nilai kertas merah
Kau suramkan masa depan putri tanah Marapu
Kau renggut kebahagiaannya yang masih belia
Kau pisahkan istri dari suaminya.
Dan hingga kini
Kawan aparatmu terlalu keparat sudah membuat satu keluarga melarat
Belum ada kabar bahwa sudah dijebloskan ke penjara,
Manakah keadilan yang katanya dijamin negara?
Kebenaran ‘kan datang mengadili,
Meski susah mengadili,
Karena kutahu kawan sendiri.

Sumba, Juli 2019

——————————————–

(*Penulis Inya Mete merupakan Aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Tambolaka)

FB_IMG_15647099953740488.jpg
FB_IMG_15647099890655065.jpg
FB_IMG_15647099833865992