Anak muda adalah garda terdepan dalam perubahan kemajuan suatu daerah, sehingga peran mereka sangat penting dalam bingkai politik, bukan hanya penting untuk ikut mencoblos ataupun penting dalam menjadi tim sukses, akan tetapi hal yang paling penting bagi anak muda adalah memberikan ruang politik untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan daerah.

Anak Muda itu jangan hanya dijadikan sebagai tim pencari suara ataupun sebagai tim pengangkat elektabilitas dan popularitas para kandidat, ingat, anak muda itu harus lebih diperhatiakn dan lebih di ikutkan dalam menentukan dan mengawal kebijakan kebijakan politik.

Tahun 2019 adalah tahun politik para kaum muda yang bukan hanya sekedar menjadi tim sukses ataupun hanya sekedar kami butuhkan untuk mencoblos.

Anak Muda Melenials

Sangat memahami situasi sosial yang ada, Mereka memiliki banyak saluran atau akses informasi disebabkan oleh keaktifannya menggunakan teknologi cerdas,memahami mana pemberitaan yang sengaja dibuat untuk sekedar menggaduhkan suasana, berita-berita bohong yang tak berdasar, hoaks dan lainnya, Pemuda mampu membandingkan – melalui pengetahuan – bahwa pemerintahan saat ini jauh lebih bahgc2nyak memberi rasa nyaman. Terlalu banyak kelebihan yaang dimiliki oleh kita, mari lakukan gerakan pemuda yang masif agar dapat di beri ruang untuk secara cepat dan aktif dalam konteksnya.

Urgensi terhadap regenerasi politik, seyogyanya bukan sekadar regenerasi terhadap usia generasi, tapi juga dalam bentuk pemikiran, visi dan pandangan, nilai-nilai utama kepemimpinan, demokrasi, kesetaraan.

Kaum Pemuda memiliki kesempatan yang besar untuk meningkatkan partisipasi politiknya. Secara umum pihak pelaksana wewenang penyelenggaraan pemilu, secara utuh tunduk pada aturan teknis yang berlaku.

Kepentingan elit politik yang secara langsung terlibat dalam penyelenggaraan aktivitas politik, lebih mementingkan kepentingan golongan dan terkesan menghambat keterlibatan pemuda dengan ideologi yang dibawa.

Realita tersebut cukup menghambat bagi kaum pemuda untuk menembus tirani yang telah terbangun oleh kepentingan oknum elit politik yang telah lebih dahulu menguasai aktivitas politik secara menyeluruh. Butuh yang baru, butuh yang muda, butuh yang mengerti semua kalangan.

Peran dan pesan pemuda bisa menjadi sebuah pembaharuan untuk kemajuan daerah ini. Kenyataannya saat ini adalah banyaknya sikap para pemuda yang apatis terhadap politik .
Politik adalah hal yang tidak bisa terlepas dari kehidupan bermasyarakat dalam berbagai aspek.

Kepercayaan masyarakat berkurang pada lembaga politik yang ada di bangsa ini yang disebabkan pudarnya nasionalisme dan profesionalisme yang ada pada tubuh birokrasi di Indonesia dampak akibat pada korupsi,
Jika kita lihat secara saksama, susunan birokrasi yang kini dipenuhi oleh golongan tertentu dan minimnya peran pemuda.

Kapan pemuda seperti Sultan Syahrir muncul kembali jika tidak diberi kesempatan? Banyak anggapan dunia politik itu kotor,ganas, dan jauh dari kata baik. Nilai-nilai kebaikan yang dihasilkan dari politik kian memudar dan tidak terlepas dari menurunnya kepercayaan masyarakat.

Disinilah dibutuhkan sosok yang dapat membuka gerbang kesempatan untuk golongan muda berkarya, bersuara, berperan dalam perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik tentunya.

Berkaitan dengan legitimasi ini, menurut Max Weber terdapat tiga model yakni;

Pertama, legitimasi tradisional, yaitu keyakinan dalam suatu masyarakat tradisioanl, bahwa pihak yang menurut tradisi lama memegang pemerintahan memang berhak untuk memerintah, misalnya kaum bangsawan atau keluarga raja (dinasti), dan bahwa oleh karena itu memang sudah sepatutnya apabila pihak itu ditaati.

Kedua, legitimasi kharismatik berdasarkan perasaan kagum, hormat, cinta atau ngeri masyarakat terhadap seorang pribadi yang sangat mengesankan sehingga mereka dengan sendirinya bersedia untuk taat kepadanya; misalnya kalau seseorang dianggap mempunyai suatu perutusan khusus atau kesaktian.

Ketiga, legitimasi rasional legal berdasarkan kepercayaan pada tatanan hukum rasional yang melandasi kedudukan seseorang pemimpin.

Anomali praktek politik kita mengindikasikan adanya kesenjangan antara apa yang dijanjikan dan dicita-citakan dengan praksis politik, karena anomali politik tersebut tidak saja dilakukan oleh mereka yang rendah basis intelektual dan spiritualnya, tetapi juga dilakukan oleh politisi dengan basis intelektual dan spiritual yang memadai, bahkan mengakar kuat dalam aktivitas akademik dan kegiatan keagamaan.

Dalam konteks ini, politik telah identik dengan praktek dan permainan yang kotor, kini permainan kotor itu terdesentralisasi ke berbagai daerah.

Dinamika politik yang semakin mengukuhkan praktek yang tidak bermoral tersebut memerlukan adanya energi baru yang positif untuk merekonstruksi permainan politik agar lebih anggun, santun dan beradab.

Kaum muda perlu mengambil prakarsa dalam mengubah citra politik bangsa, tahun 2019 dapat menjadi momentum kemunculan kaum muda dalam pentas politik nasional, dengan catatan harus membawa energi baru yang positif bagi perbaikan bangsa.

Wacana kepemimpinan kaum muda yang mencuat beberapa waktu yang lalu dapat menjadi suatu catatan penting bagi kaum muda dalam merencanakan bentuk keterlibatannya dalam politik.

Ingat, politik tidak identik dengan masuk partai, masuk birokrasi, masuk lembaga-lembaga negara, tetapi politik dapat dilakukan dengan cara-cara yang bersifat edukatif, mendesain program pemberdayaan rakyat dan mewujudkan sistem kelembagaan civil society yang mandiri dan kuat.

Dengan mengambil prakrasa pada berbagai ranah kehidupan, kaum muda dapat sebagai alternatif kekuatan civil society dalam rangka merespons sejumlah distorsi sosio politik bangsa, mulai dari persoalan klasik berupa korupsi hingga persoalan manipulasi. Dahulu korupsi yang telah menggurita bangsa ini dilakukan secara konvensional, kini modus politik amoral itu dilakukan dengan cara-cara yang lain seperti pengadaan barang dan jasa atau modus lainnya.

Distorsi politik bangsa sebagai akibat kerakusan para elite berkuasa dan inilah yang menjadi dasar keterlibatan kaum muda dalam mencita-citakan serta menciptakan praktek politik yang bermoral.

Terima kasih para pemuda telah berani mengambil sikap untuk berjuang bersama membangun bangsa ini.

Selama ini daerah saya hanya di jadikan lumbung suara dari luar wilayah, setelah menang kami di lupakan. Kali ini saya pribadi memberanikan diri untuk maju menjadi calon wakil rakyat untuk berjuang mengawal aspirasi masyarakat khususnya di wilayah saya dan umumnya untuk masyarakat seluruh Sumba barat.

Saya ingin berjuang bersama rakyat, menjaga uang rakyat, mengawal pemerintahan agar bersih dan jauh dari praktek korupsi, melawan intoleransi serta memaksimalkan potensi masyarakat dan daerah untuk kemajuan daerah dan kemakmuran rakyat.

Melkianus Pote Hadi (Aktivis, Akademisi Muda,Wartawan dan Pewarta, Penyuluh Narkoba, penulis).

Melki